Apakah ITB masih jadi Institut Terbaik Bangsa?

July 20, 2007 at 6:44 am 1 comment

Sebuah kebanggaan tentu saja dapat kuliah di ITB, yang katanya kampus yang paling top di Indonesia. Tapi sebenarnya apa sih kriteria untuk mengukur kualitas suatu lembaga pendidikan? Sebagai sebuah sistem, boleh jadi kita melihat dari kualitas input, proses, atau outputnya. Secara ideal, aku beranggapan ketiga hal tersebut harus digunakan secara paralel untuk menilai kualitas suatu institusi, dalam hal ini ITB.

Dari segi input mahasiswa yang didapat, sampai saat ini aku masih yakin kalau ITB mempunyai kualitas masukan diatas rata – rata, ya sebagian dari mereka boleh jadi adalah siswa siswi terbaik di daerahnya. Tapi apalah arti sebuah input yang berkualitas jika tidak diiringi dengan proses yang baik. Aku belum bisa mengatakan kalau proses yang terjadi di ITB, termasuk keseluruhan penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan oleh pihak rektorat termasuk dalam kategori baik atau buruk. Sulit bagiku mengatakan kalau pembelajaran di ITB sudah optimal, ataupun sebaliknya, karena aku sendiri kurang mengetahui keadaan kampus lain. Tanpa adanya perbandingan yang akurat, penilaianku mungkin hanya bersifat subjektif saja. Namun, yang menyedihkan adalah minimnya perlombaan yang dimenangi oleh mahasiswa ITB. Dimana hal ini, menjadikanku berpikir bahwa ada yang salah dengan sistem di ITB. Jadi paling jelas akan terlihat ketika kita melihat kualitas output yang dihasilkan, yaitu bagaimana kiprah alumninya di dunianya masing – masing. Nah, boleh jadi ITB cukup berbangga karena tidak sedikit lulusan ITB yang telah berperan dalam pembangunan di Indonesia. Namun, lagi lagi hal itu bisa jadi hanya kebanggaan semu karena itu sudah berlangsung beberapa tahun atau mungkin puluhan tahun yang lalu. Alumni ITB saat ini menurutku belum menunjukkan kualitas yang terbaik.

Yah, itu baru beberapa hal yang aku rasakan karena aku merasa masih sangat banyak potensi yang dimiliki oleh ITB, baik mahasiswa, fasilitas, maupun keseluruhan isi sistem di dalamnya yang belum dioptimalkan. Semoga saja hal itu dapat menjadi pelecut semangatku untuk berusaha lebih baik lagi, berjuang lebih keras lagi untuk mendayagunakan seluruh kemampuan yang ada karena seluruh potensi yang ada sebenarnya adalah amanah, sehingga memanfaatkannya adalah kewajiban dan termasuk ungkapan rasa syukur kita kepada Allah SWT.

Advertisement

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Menjadi yang Terbaik oh, Demak….

1 Comment Add your own

  • 1. wong kutho  |  July 25, 2007 at 4:16 am

    nggak banyak yg bisa kukomentari. hanya satu. aspek pembentukan mental adalah aspek penting dalam pendidikan. dlm pembicaraan dg beberapa pegawai makmur, aku menangkap orientasi mereka adalah gaji. bahkan ada yg bilang, “nggak peduli perusahaan kita rugi, yg penting gaji dan bonusnya nggak pengaruh”. orientasi kesejahteraan bersama jadi terpinggirkan… ini PR kita dlm bab pembentukan mental…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


 

July 2007
M T W T F S S
     
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Recent Posts


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.