Archive for July 30, 2007
oh, Demak….
Sekian lama merantau untuk menuntut ilmu, pastilah telah membuat hati ini mengalami kerinduan yang sangat pada kampung halamanku, Demak, sebuah kota kecil di jawa tengah. Boleh jadi kerinduan ku untuk pulang, terutama bukannya kerinduan kepada Demak sebagai sebuah kota, namun lebih karena disana ada keluarga, kedua orang tua yang aku cintai, dimana mengabdi kepada kedua orang tua adalah suatu hal yang sangat penting untuk diutamakan. Ini bukannya masalah anak kecil yang kangen kepada orang tua karena telah ditinggal lama, tapi lebih pada keinginanku untuk benar – benar melaksanakan kewajibanku sebagai seorang anak, untuk birrul walidain tentunya. Semoga saja aku benar – benar bisa memenuhi hak orang tuaku atas diri ini sebelum malaikat maut menjemput.
Tetapi, bukan berarti hanya kesenangan ataupun kebanggaan saja yang kurasakan ketika pulang ke Demak. Meskipun ada kebaikan – kebaikan yang berhasil aku raih, toh itu bukan hal yang terlalu istimewa, apalagi pantas untuk dibanggakan. Ya, hal ini berhubungan dengan Demak, sebagai sebuah kota yang boleh jadi aku cukup sedih dengan kondisinya saat ini. Kondisi yang aku maksudkan adalah mengenai kondisi keberagamaan, perekonomian, maupun perilaku dan pemikiran masyarakatnya secara umum. Aku merasa tidak banyak kemajuan yang telah diraih di Demak. Kejumudan yang masih dimiliki oleh sebagian besar masyarakat, yaitu dengan mengedepankan taqlid yang berlebihan pada para kyiai, menurutku membuat kondisi keislaman masyarakat dipenuhi dengan kebid’ahan. Ya, sebagaimana banyak kota – kota lain di jawa yang masih kental dengan tradisi jawa, maka ritual islam yang dilakukan benar – benar sulit dibedakan dengan pelaksanaan tradisi yang notabene dihasilkan dari budaya hidu -budha, bahkan animisme dinamisme. Menurutku masalah – masalah yang lain, seperti masalah ekonomi, akan sangat sulit diselesikan jika kondisi keislaman masyarakat tidak diperbaiki dulu. Tentu saja, bagaimana kita akan mendapat keridhoan Allah jika tindakan kita tidak sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.
Sepengatahuanku, kondisi seperti ini mungkin tidak hanya terjadi di Demak saja, tetapi tentu demak memiliki arti tersendiri bagiku. Tentu saja karena disitulah kampung halamanku, yang mana aku bertanggung jawab juga terhadap kemaksiatan – kemaksiatan yang terjadi kecuali aku telah melakukan nahi mungkar sebagai kewajibanku. Hal inilah yang banyak menjadi beban pikiranku. Aku belum bisa berbuat banyak, bahkan untuk kebaikan kampung halamanku sendiri, sebuah kota kecil di ujung jawa tengah. Sebagai seorang mahasiswa, aku mempunyai tanggung jawab yang besar. Ilmu yang telah aku pelajari, dan seluruh pengalaman yang telah didapat seharusnya bisa aku amalkan, sehingga menjadi hal yang bermanfaat, dan semoga bisa menjadi hujjahku ketika aku harus mempertanggung jawabkan hidupku di hadapan Allah Subhanallahu Wa Ta’ala, Tuhan Yang Maha Adil.